Bulan Muharam merupakan bulan keberkatan dan rahmat kerana bermula dari bulan inilah berlakunya segala kejadian alam. Bulan Muharam
juga merupakan bulan yang penuh sejarah, di mana banyak peristiwa
yang berlaku sebagai menunjukkan kekuasaan dan kasih sayang Allah
kepada makhluk-nya,dan Muharam pun menjadi Bulan berduka bagi keluarga

Nabi saw dan pengikutnya. Di bulan ini terjadi tragedi Karbala, 
peristiwa yang paling tragis dalam sepanjang sejarah kehidupan 
manusia.

Tragedi Karbala terjadi pada 10 Muharram 61 H. Peristiwa ini dikenal 
dengan peristiwa Asyura. Hampir semua kaum muslimin di Indonesia 
mengenal Asyura..

Apakah Hari Asyura itu?

Hari Asyura adalah hari pementasan duka nestapa Ahlul Bait Rasulullah, hari rintihan sunyi putera Fatimah, hari keterasingan putera Haidar Al-Karrar, Singa Yang Pantang Mundur, Dia adalah putera si pemilik pedang Dzulfikar yang telah banyak menghabisi benggolan-benggolan pendekar kaum kafir dan musyrik. Dia adalah putera yang mewarisi semua kehebatan ayahnya. Karenanya, tak mengherankan jika Imam Husain as tak tertandingi oleh siapapun dalam pertarungan secara ksatria .

Air matanya mengalir. Dia menatap langit dan tampak tergambar kekuatan-kekuatan dari sumber gaib. Kemudian, bagaikan seorang muazin dari menara, ia mengumandangkan suaranya :

Adakah sang penolong yang akan menolong kami?

Adakah sang pelindung yang akan melindungi kami?

Adakah sang pembela yang akan menjaga kehormatan Rasulullah?

Teriakan Imam Husain as ini mengundang jerit tangis kaum wanita yang masih harus beliau lindungi.

Beliau berteriak lagi:

“Adakah orang yang menyisakan rasa belas kasih? Adakah seorang penolong?”

Padang Karbala,menjadi Saksi Pembantaian Keluarga Rasulullah dan para pengikut nya yang setia,Padang yang menjadi saksi Kepala tanpa jasad ..padang dimana salah satu putri beliau berkata “”Ayah! Ayah!” memanggil puteri beliau yang masih berusia tiga tahun. “Aku haus, aku haus! Mau kemana engkau ayah? Lihatlah aku, ayah. Aku sedang kehausan.”

Jalan nya Pertempuran

Pertempuran yang tidak berimbang antara Pasukan Bani Umayyah Pimpinan umar bin saad yang berjumlah 4000 orang,melawan pasukan Al Imam Husein yang berjumlah kurang lebih 80 orang. Umar bin Sa’ad memerintahkan seluruh pasukannya untuk ramai-ramai mengerungi dan membantai Imam Husain as sedapat mungkin. Maka, sang Imam pun mulai menjadi bulan-bulan menghadapi sekian banyak manusia-manusia buas itu. Tubuh Imam semakin lemas dalam melakukan perlawanan sehingga saat demi saat tubuh beliau mulai menuai luka dan kucuran darah. Jasad beliau mulai terkoyak-koyak oleh berbagai jenis senjata pedang, tombak, dan panah yang sudah tak sabar untuk menghabisi riwayat Imam Husain as. Beliau tetap bangkit berdiri dan melanjutkan perlawanan sekuat tenaga. Dalam keadaan seperti itu beliau masih sempat menjatuhkan beberapa pasukan. Saat spirit beliau bertambah beliau selalu mengucap kalimat:
لا حول ولاقوة الا بالله العلي العظيم
Di saat yang sama, manusia biadab Umar bin Sa’ad dan gerombolannya bergerak menuju perkemahan keluarga dan rombongan Imam Husain as. Di saat tubuh Imam roboh dan nafasnya sudah tersengal-sengal menanti ajal, gerombolan manusia liar itu mengobrak-abrik perkemahan anak keturunan Rasul tersebut. Mereka melakukan aksi pembakaran, merampasi harta benda, dan menangkapi dan menggiring kaum wanita dan anak-anak kecil sebagai tawanan. Di saat beliau semakin kehabisan tenaga itu, Darah kembali menggenang. Sebagian darah beliau hamburkan ke atas dan sebagian yang lain beliau usapkan ke wajahnya sambil berucap: “Beginilah aku jadinya hingga aku bertemu dengan kakekku Rasulllah dalam keadaan berlumuran darah lalu aku adukan kepada beliau: fulan, fulan telah membunuhku.”
Tanpa basa-basi lagi Semua pasukan menyerang nya, satu anak panah melesat ke arah Imam Husain dari Hissin bin Numair. Sejurus kemudian yang lain ikut ramai-ramai menghajar Imam Husain sehingga tak ada anggota tubuh suci cucu Rasul itu yang luput dari hantaman benda tajam, dan benda tumpul. Batu-batupun bahkan ikut meremukkan tubuh beliau.

Setelah tak ada yang berani yang berani untuk menghabisi Al Husein,maka tampil lah Syimir mencabut pedang dari sarungnya dan tanpa membuang-buang waktu lagi, lelaki bengis mengayunkan pedangnya kuat-kuat ke leher cucu Rasul dan putera Fatimah Azzahra itu. Sekali tebas, kepala manusia mulia terlepas dari badannya. Terpisahnya kepala manusia suci itu disusul dengan suara takbir tiga kali dari liang mulut balatentara Umar bin Sa’ad yang busuk itu. Kepala yang dulu sering diciumi oleh Rasulullah SAWW itu ditancapkan ke ujung tombak.  Dia antara mereka terdengar teriakan keras.

“Bergembiralah hai Amir! Inilah Syimir yang telah membunuh Husain!” Langitpun kelabu. Bumi meratap pilu.

Demikianlah, para pahlawan pembela Islam dan Ahlul Bait suci itu berguguran satu persatu. Darahnya telah menyiramkan cahaya spiritual yang terang benderang di bumi Karbala, bumi duka nestapa. Jasad-jasad mereka yang fana memang sudah tergolek tanpa nyawa seperti yang diharapkan musuh. Namun, jejak-jejak spiritual mereka akan tetap abadi dan tidak akan pernah sirna untuk selamanya.

Salam kepada jasad yang berlumuran darah

Salam kepada jasad yang berhiaskan tancapan anak panah

Salam kepada kepala yang selalu diciumi kakeknya

Salam kepada orang kelima di antara ash-hâb al-kisa’

Salam kepada orang yang terasing di Karbala

Salam bagimu, wahai Aba Abdillah, al-Husain…..

Berikut adalah petikan dari beberapa tokoh yang di rangkum dari berbagai sumber….

Dalam doa ziarah Imam AlMahdi as untuk Imam Husain as disebutkan:

“Bagaiamana aku dapat membayangkan adegan nyata dimana kudamu kembali ke tendamu sambil merundukkan kepala seperti menangis, dan kaum wanita (mu mendapatinya dalam keadaan mengenaskan dan pelananya terbalik sehingga mereka keluar tenda, rambut mereka terurai, wajah mereka dibanjiri air mata, dan tampak jelas, dan ratap tangis mereka terdengar keras, setelah mereka kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Mereka lantas bergegas menuju tempat pembantaianmu di saat Syimir menduduki dadamu sambil menghunus pedangnya di atas lehermu.”

“(Wahai kakekku), maka aku akan sungguh-sungguh meratapi dirimu setiap dan sore. Bukannya dengan air mata, tetapi dengan darahlah aku menangisinya dan meratapi bencana besar yang telah menimpamu hingga aku meninggal dunia nanti dalam keadaan menanggung beban duka cita.”

“Seandainyapun masa ini diakhirkan dan takdirkan telah menghalangiku untuk menolongmu, maka aku akan tetap sunguh-sungguh meratapimu dan menangisimu dengan darah, bukan bukan dengan air mata.

“Husain berkorban murni demi Islam.”

Charles Dickens

“Demi terus menghidupkan keadilan dan kebenaran, alih-alih menggunakan pasukan ataupun senjata, kesuksesan bisa diraih dengan pengorbanan jiwa. Inilah yang dilakukan oleh Imam Husain.”

Rabindranath Tagore

“Pengorbanan Imam Husain adalah demi semua kelompok dan masyarakat, sebuah teladan jalan kebenaran.”

—Pandit Jawaharlal Nehru

Peristiwa syahidnya Imam Husain bukan saja tragis, tetapi juga sangat ironis, karena hanya beberapa tahun saja dari wafat kakeknya, Nabi Muhammad saw., telah terjadi pembantaian keji terhadap cucu sang Nabi! … Ke mana para sahabat Nabi yang masih hidup, ke mana para tabi’in yang hidup pada masa itu?

—Motinggo Busye

“Dalam sejarah Islam, tidak ada yang lebih keji daripada tragedi ini (Karbala).”

—Washington Irving

“Husain dan para pengikutnya merupakan orang-orang yang sangat mengimani Tuhan.”

—Thomas Carlyle

“Tragedi Karbala… selalu bisa menggugah emosi terdalam, kesedihan luar biasa, dan semangat meluap-luap yang membuat rasa sakit, bahaya, dan kematian menyerpih bagai debu.”

—Edward G. Brown, profesor di University of Cambridge

“Tragedi Karbala bukan hanya menentukan nasib kekhalifahan, namun juga nasib umat Muhammad jauh setelah kekhalifahan pupus dan tenggelam.”

—Sir William Muir, cendekiawan dan negarawan Britania Raya

Pada hari syahadahnya Al-Husain langit hujan darah…

—Edward Gibbon, sejarawan Inggris paling terkemuka

“Sejak hari kelam Karbala, sejarah keluarga kenabian terus-menerus diliputi penderitaan dan penindasan.”

—Ignaz Goldziher, cendekiawan orientalis terkemuka

“Selain itu Zari Al­Asadi, seorang petani yang bercocok tanam di tepian sungai Alqamah dalam  kisahnya  tentang  Imam  Husain  mengatakan:  Pukulan  tongkat  Nabi  Musa  as  ke  batu  dapat  memancarkan  mata  air  tetapi  musibah  Imam  Husain  telah  memancarkan  darah  dari  bebatuan,  sebagaimana  darah  pernah  mengucur  dari  runtuhan  batu­batu  di  Baitul  Maqdis”.

Sumber:swaramuslim.com